Jumat, 23 Juli 2010

Tolak Tambang atau Biarkan Tambang?

"KEADAAN dan situasi yang lebih parah justru terjadi di Desa Wanggameti. Masyarakat di Desa Wanggameti saat ini hampir tidak ada yang anti tambang. Rata-rata tokoh kunci di desa yang bersangkutan setuju dan mengambil manfaat dengan aktivitas pertambangan. Masyarakat Desa Wanggameti berani untuk melawan siapa saja yang berani menghentikan aktivitas tambang di Desa Wanggameti. PT Fathi sendiri pada saat ini juga telah menempatkan dokter ahli gratis untuk berobat tanpa bayar."

Oleh Umbu Rihimeha M (Social Development Specialist Burung Indonesia Kantor Sumba)

"KEADAAN dan situasi yang lebih parah justru terjadi di Desa Wanggameti. Masyarakat di Desa Wanggameti saat ini hampir tidak ada yang anti tambang. Rata-rata tokoh kunci di desa yang bersangkutan setuju dan mengambil manfaat dengan aktivitas pertambangan. Masyarakat Desa Wanggameti berani untuk melawan siapa saja yang berani menghentikan aktivitas tambang di Desa Wanggameti. PT Fathi sendiri pada saat ini juga telah menempatkan dokter ahli gratis untuk berobat tanpa bayar."
Pernyataan tersebut disampaikan dengan tegas oleh Stef Landu Paranggi, salah satu staf Koppesda yang berasal dari Desa Wanggameti. Pernyataan sikap masyarakat Desa Wanggameti di atas adalah pernyataan yang sangat wajar dan manusiawi di tengah himpitan ekonomi dan tidak adanya sumber pendapatan tetap. Tawaran yang diberikan oleh PT. Fathi Resources Jakarta adalah juru selamat bagi masyarakat Wanggameti akibat gagalnya pendekatan-pendekatan ekonomi skala mikro yang telah dilakukan selama ini. Ada dua kepentingan yang saling menguntungkan secara ekonomi, dan secara otomatis tujuan dan hasil yang diharapkan pasti akan tercapai.
Masyarakat Desa Wanggameti sangat mungkin saat ini lebih membutuhkan uang harian ketimbang memikirkan dampak jangka panjang yang ditimbulkan. Lapangan kerja yang disediakan oleh PT Fathi Resources Jakarta adalah juru selamat bagi ketidakpastian akses masyarakat terhadap distribusi kerja dan hasil pembangunan yang tidak merata. Masyarakat Wanggameti rata-rata tidak memiliki sumber penghasilan harian secara tetap dari usaha yang mereka lakukan. Hal ini adalah peluang yang baik bagi pemilik modal untuk melihat ini sebagai kesempatan. Dukungan politik juga memiliki peranan yang sangat kuat dalam memuluskan jalan PT Fathi tersebut. Bentuk-bentuk kebijakan direalisasikan dalam keputusan-keputusan politik. Korelasi kuat antara penguasa dan pemilik modal di sini begitu nyata dan kuat.
Tantangan paling besar saat ini adalah bersatunya visi antara kepentingan politik penguasa dan kepentingan penguasa modal. Susah sekali untuk menundukkan penguasan politik dan pemilik modal yang telah membentuk dalam sebuah sistim dan jaringannya sendiri. Semuanya tergantung waktu dan saat yang tepat.
Desa Wanggameti hanyalah salah satu desa dari delapan desa yang berbatasan langsung dengan kawasan Taman Nasional (TN) Lai Wanggi Wanggameti. Otoritas pengelolaan taman nasional saat ini ditangani langsung oleh Balai TN Manupeu Tanadaru yang merupakan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Departemen Kehutanan Repulik Indonesia. TN Lai Wanggi Wanggameti adalah hutan tersisa terbesar, di mana semua masyarakat Sumba Timur menggantungkan sumber air utama pada kawasan hutan ini.
Sesuai dengan SK penunjukan Menteri Kehutanan Nomor 576/Kpts-II/1998 tanggal 3 Agustus 1998, luas kawasan TN Lai Wanggi Wanggameti adalah 47.014 Ha. Kawasan hutan ini adalah kawasan potensial untuk tangkapan air paling besar bagi warga Sumba Timur, dan menghasilkan beberapa sungai besar yang mengalir dan mengairi hampir 75 % Pulau Sumba. Kerusakan pada kawasan ini jelas sangat mempengaruhi ketersediaan air bagi kebutuhan makhluk hidup di Pulau Sumba.
Dari Informasi yang dihimpun dari sumber terpercaya, saat ini, ada 6 lokasi titik pengambilan sampel batuan di Desa Wanggameti, yaitu Lokasi Laironja (di dalam TN Lai Lai Wanggi Wanggameti), Okanjara (pinggir batas TN Lai Wanggi Wanggameti), Kanjilu, Pahadanjal (pinggir batas TN Lai Wanggi Wanggameti), dan Kalai Bakal (di dalam TN Lai Wanggi Wanggameti). Kondisi dan status ke enam lokasi tersebut sesuai kontur daerah aliran sungai merupakan sumber air utama bagi masyarakat Sumba Timur.
Namun terlepas dari pro dan kontra, PT Fathi Resources Jakarta berhasil mencitrakan dirinya sebagai perusahaan yang dapat membawa dampak ekonomi baru bagi para pihak. PT Fathi saat ini sementara melakukan co branding melalui banyak cara dengan membawa jargon tambang untuk kesejahteraan. Co branding yang dilakukan PT Fathi Resources Jakarta telah membentuk citra dimata semua pihak (tercitrakan) sebagai perusahaan yang membawa pembaharuan baru dalam bidang ekonomi bagi Sumba. Proses co branding yang dilakukan oleh PT Fathi ini jelas berhasil berjalan dengan baik karena mengalirnya dukungan kebijakan dan dukungan masyarakat sipil yang mendukung.
Salah satu hal yang benar-benar melekat dalam benak masyarakat, khususnya Desa Wanggameti, adalah keberanian perusahaan ini memberikan yang terbaik (kredibel) dan pribadi yang diandalkan. Contoh kasus adalah adanya dokter ahli yang gratis melayani masyarakat kapan saja dan terlibatnya PT Fathi dalam aksi-aksi kemanusiaan yang menyentuh hati masyarakat seperti adat perkawinan dan kematian.
Saat ini berani saya katakan orang akan melupakan dampak terburuk apa pun yang akan terjadi di Pulau Sumba. Semua pihak terjebak dalam kepentingan sesaat (kepentingan ini, jam atau hari ini). Kalaupun ada yang mengatakan, Sumba akan jadi Lapindo berikutnya, orang tetap tidak akan peduli dan masa bodoh. Buruknya penanganan persoalan sosial ekonomi, persoalan makanan, perumahan dan pakaian, soal kerja dan hasil-hasil kerja (produksi) dan distribusi hasil kerja secara merata, tambah meningkatkan citra positip yang ditawarkan oleh perusahaan pertambangan.

Masyarakat Vs masyarakat
Menurut Okta Landi, salah satu staf Koppesda Sumba Timur, dalam kegiatan refleksi aksi tambang di TN Lai Wanggameti (24/6/2010), tantangan paling berat saat ini adalah berhasilnya PT Fathi untuk membenturkan dua kepentingan, yakni kepentingan peningkatan kesejahteraan masyarakat atas peluang kerja yang diberikan oleh PT Fathi sendiri dan kepentingan PAD bagi daerah. Situasi sekarang, justru yang mengalami bentrokan adalah antara kelompok masyarakat yang mendukung tambang dan masyarakat yang tidak mendukung tambang. Faktanya masyarakat terjebak atas nama kepentingan tertentu.
Keadaan dan situasi yang lebih parah justru terjadi di Desa Wanggameti. Masyarakat di Desa Wanggameti saat ini hampir tidak ada yang anti tambang. Rata-rata tokoh kunci di Desa yang bersangkutan setuju dan mengambil manfaat dari aktivitas pertambangan. Masyarakat Desa Wanggameti berani melawan siapa saja yang berani menghentikan aktivitas tambang di Desa Wanggameti. PT Fathi sendiri pada saat ini juga telah menempatkan dokter ahli gratis untuk melakukan pengobatan tanpa bayar. Benturan kepentingan antara masyarakat sipil akan terus berlangsung apabila tidak ada pilihan-pilihan pendekatan terobosan dari pemkab untuk mengatasi masalah sosial ekonomi, persoalan makanan, perumahan dan pakaian, distribusi kerja dan hasil kerja secara adil.
Kasus yang terjadi di Desa Wanggameti adalah kasus yang sangat alamiah terjadi, di mana masyarakat tidak memiliki pilihan dan alternatif. Saat ini masyarakat Desa Wanggameti merasa nyaman dengan alternatif pendapatan harian secara cepat dan berada di muka mata tanpa harus berpikir. Akses dan distribusi hasil produksi yang tidak merata, membuat masyarakat berpikir praktis. Masyarakat mendapatkan kemerdekaannya dengan memilih alternatif. Masyarakat Desa Wanggameti, susungguhnya pada saat ini sedang membangun citra positif tentang tambang.
Adanya benturan kepentingan masyarakat sipil yakni antara kelompok yang pro dan kontra justru merupakan tantangan yang cukup berat. Politik adu domba atas nama pendapatan dan kesejahteraan menjadi alat yang cukup kuat untuk membentuk opini masyarakat tentang citra positif tambang. Pendekatan ekonomi praktis yang ditawarkan oleh PT Fathi adalah kemampuan melihat peluang melalui proses refleksi yang panjang dari bentuk-bentuk pendekatan ekonomi yang telah diterapkan. Pertanyaan mendasar yang harus dijawab oleh masyarakat Pulau Sumba adalah siapa sesungguhnya yang mendapat manfaat dari semua peristiwa tersebut? Apakah masyarakat atau pemerintah yang sebenarnya memiliki otoritas atas semua kekayaan milik negara?

Solusi
Mendukung atau menolak tambang adalah pilihan. Tetapi yang perlu dikaji secara mendalam adalah seberapa jauh korelasi tambang terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat dan dampak yang ditimbulkan serta siapa-siapa sesungguhnya yang paling diuntungkan. Adanya tambang akibat kandas dan tidak berjalannya proses pembangunan yang menyentuh kepentingan potensi masyarakat. Kemauan politik untuk memaksimalkan potensi unggulan sama sekali tidak berjalan. Tambang adalah bentuk frustrasi terhadap ketidakmampuan mengaktualisasikan potensi unggulan Pulau Sumba. Contoh praktis adalah sektor ternak sebagai sektor unggulan paling potensial yang pada saat ini terjebak dalam mata rantai panjang sindikat dan jaringan pencurian.
Tambang di Pulau Sumba tidak akan pernah memiliki jalan keluar apabila pemerintah kabupaten tidak mampu memecahkan persoalan sosial ekonomi, persoalan makanan, perumahan dan pakaian, soal kerja dan hasil-hasil kerja (produksi) dan distribusi hasil kerja secara merata. Bila tidak selesai, maka kita akan tetap terjebak dalam krisis multilevel secara berkepanjangan.
Tambang akan menciptakan masalah yang berkepanjangan yang akan kita alami seumur hidup di Sumba Timur. Sejarah tambang di Indonesia tidak ada yang mensejahterakan rakyat, tetapi hanya meninggalkan masalah setelah para pemilik modal dari luar datang menguras kekayaan. Menerima tambang sama saja menggagalkan kembali keberhasilan pemerintah yang telah terbukti mampu mengubah pola pertanian dengan dibangunnya Bendungan Malumbi yang secara nyata telah menjawab atau mensejahterakan rakyat Waingapu dan sekitarnya. Kenyataan ini adalah dampak negatif secara langsung yang akan terjadi karena Wanggameti adalah sumber air utama dari 6 DAS di Sumba Timur.
Dengan situasi seperti ini, sangat tidak ada manfaatnya membangun dukungan para pihak untuk melihat tambang sebagai peluang ataukah ancaman. Dalam urusan ini, kemauan politik dan kontrol publik sangat penting untuk membangun opini bersama di antara para stakeholder serta kecerdasan memanfaatkan secara efektif jalur dan media yang tersedia.
Menolak atau mendukung tambang hanya bisa dipikirkan secara jernih apabila pemerintah daerah dapat menyiapkan pendekatan ekonomi praktis yang tidak bertele-tele serta dipahami sesuai dengan kondisi masyarakat. Masyarakat membutuhkan pendapatan harian tetap untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Apabila hal tidak terjadi, maka sangat mungkin semua pihak yang terlibat akan merasa nyaman dengan situasi ini, karena mereka hidup untuk hari ini dan bukan untuk akan datang. *
Sumber, Pos Kupang, Jumpat, 23-07-2010
(Agustinus Sape)

1 komentar:

al mengatakan...

Kalian sudah dibutakan matanya.
Penduduk lokal di dekat2 sana tidak akan bisa bertambaj makmur dengan adanya tambang ini.
Juga penduduk kota waingapu yang akan merasakan masalah air yang semakin sulit.