Minggu, 27 Juni 2010

Suku Anak Rimba Terjepit Pembabatan Hutan di TNBT

PEKANBARU--MI: Pembabatan hutan besar-besaran di kawasan penyangga Taman Nasional Bukit Tiga Puluh (TNBT) mengancam kelangsungan hidup Suku Anak Rimba atau Suku Kubu. Ratusan suku asli yang sangat bergantung pada hasil hutan itu semakin terjepit karena porak-porandanya habitat hidup mereka.
"Kami bingung hendak cari makan ke mana lagi. Hutan kami habis dipotong. Anak-anak kami tak bisa hidup lama, mati terserang penyakit," kata Syukur, salah seorang keluarga Suku Anak Rimba di kawasan penyangga TNBT Kabupaten Tebo, perbatasan Riau-Jambi, Minggu (27/6).
Berdasarkan data sensus Komunitas Konservasi Indonesia (Warsi), sedikitnya terdapat 550 jiwa Suku Anak Rimba yang hidup di sekitar TNBT. Secara keseluruhan diperkirakan ada 4.000 jiwa Suku Anak Rimba yang tersebar di sejumlah hutan perbukitan di TNBT dan Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD).
Menurut Syukur, kehilangan hutan menjadi suatu ancaman nyata bagi kehidupan keluarganya. Ada empat anak yang tak mampu bertahan hidup dan akhirnya meninggal di dalam hutan karena semakin terbatasnya bahan makanan dan obat-obatan alami yang kerap digunakan oleh Suku Anak Rimba.
"Untuk bertahan hidup kami terpaksa menunggu sumbangan beras dari saudara yang ada di kampong (permukiman penduduk). Mau berladang atau bersawah sudah tak bisa sebab dilarang orang (keamanan perusahaan)," ucap Syukur yang saat ditemui sedang menunggu istri dan tiga anaknya sedang pergi bermalam (berburu) di tengah hutan TNBT.
Persoalan Suku Anak Rimba semakin berat tatkala areal hutan yang menjadi habitat hidup mereka sudah dibagi-bagi sejumlah perusahaan kayu. Luas areal bekas Hak Pengusahaan Hutan (HPH) PT IFA 108.000 hektar (ha) kini telah diperebutkan oleh sedikitnya tiga perusahaan HTI yaitu PT Tebo Multi Agro (TMA) 19.800 ha, PT Lestari Asri Jaya (LAJ) 16.000 ha, dan PT Wirakarya Sakti 18.430 ha.
Kondisi kehidupan Anak Rimba makin diperparah dengan dibangunnya jalan koridor TNBT-Bukit Rimbang Bukit Baling-Tebo dari Peranap, Kabupaten Indragiri Hulu, Riau, tembus ke Kabupaten Tebo, Jambi. Manajer Program Kebijakan dan Advokasi Warsi Diki Kurniawan mengatakan pemerintah Indonesia seakan tutup mata terhadap ancaman kelangsungan hidup Suku Anak Rimba. Keterbatasan pengetahuan, karekteristik lugu, dan budaya yang takut terhadap perubahan membuat suku yang menganut animisme (penyembah dewa) itu tidak dapat berbuat banyak.
"Suku Anak Rimba dalam kondisi rentan lemah tak berdaya. Harus ada advokasi serius untuk menolong mereka," ujar Diki.
Dijelaskannya, kelangsungan hidup dan kebudayaan suku asli itu harus mendapat perlindungan dari pemerintah. Pasalnya, Suku Anak Rimba merupakan suku asli dan penduduk resmi warga Negara Indonesia. "Pemerintah Indonesia harus cepat mencarikan jalan keluar bagi keselamatan Suku Anak Rimba. Sejauh ini tidak ada perhatian serius yang pernah diberikan pemerintah," ungkapnya.
Selain persoalan suku anak rimba, lanjut Diki, penghancuran kawasan hutan penyangga TNBT juga mengancam kehidupan flora dan fauna langka yang hidup di kawasan itu. Di antaranya, Harimau Sumatra yang diperkirakan ada 25 ekor, gajah 30 ekor, orang utan sekitar 100 ekor dan merupakan hasil konservasi dari FZS (Frankfrut Zoological Society) pada 2006.
Di samping itu, ratusan tumbuh-tumbuhan juga punah dibabat dalam land clearing ditambah kelangsungan hewan seperti sapir, kijang, dan beruang. "Janji moratorium Presiden SBY harus ditagih demi keselamatan hutan dan lingkungan. Khususnya Suku Asli Anak Dalam yang merupakan bagian dari bangsa Indonesia," kata Diki. (RK/OL-5)

Sumber Media Indonesia, Minggu, 27 Juni 2010 14:42 WIB

Tidak ada komentar: